DESAIN proyek kereta semicepat Jakarta-Surabaya masih terus dikaji. Namun, pemerintah lebih condong untuk memilih desain kereta yang lebih modern, yakni dengan Standard gauge (lebar rel standar) double track.

Tenaga Ahli Menko Kemaritiman Bidang Politik dan Media Atmadji Sumarkidjo mengatakan Menko Kemaritim-an Luhut Binsar Pandjaitan ingin proyek kereta semicepat Jakarta-Surabaya menggunakan desain yang lebih modern. Desain narroiv gauge (lebar rel sempit) dinilai sudah sedikit dipakai di berbagai negara.

Di samping itu, Atmadji menyatakan, pemerintah ingin desain kereta api yang bisa awet dalam jangka panjang. “Pak Menko ingin jangan berpikir hanya 3-4 tahun ke depan saja, tapi 20 tahun. Pulau Jawa akan berat ke depannya, jadi moda transportasi harus modern,” paparnya saat media briefing di Jakarta, Selasa (12/12).

Namun, kata Atmadji, skema Standard gauge akan memakan biaya sangat besar. Dari hasil studi kelayakan yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), nilai proyek bisa mencapai Rp 168,6 triliun bila menggunakan desain new Standard gauge double track. Dengan desain itu, rata-rata kecepatan kereta mencapai 190 kilometer (km) per jam dan memakan waktu tempuh paling cepat, yakni 210 menit.

Bila menggunakan rute eksisting ditambah single track Standard gauge, nilai proyek bisa mencapai Rpl07,8 triliun. Desain ini memiliki kecepatan 151 km/jam atau memakan waktu tempuh 282 menit untuk sampai Surabaya. Lalu, desain lainnya ialah rute ek-sisting ditambah single track narroiv gauge yang senilai Rpl03,7 triliun dan rute eksisting dengan narrow gauge mencapai Rp85,89 triliun. Kedua desain tersebut memiliki kecepatan yang sama, yakni 129 km per jam atau memakan waktu tempuh 330 menit.

Karena pertimbangan besarnya tambahan biaya proyek, pemerintah akan meminta masukan dari konsultan Korea Selatan. Menurut Atmadji, Korea Selatan termasuk negara yang cukup andal dalam pembangunan kereta cepat. “Kami masih menunggu opini lain secara netral karena apa pun desain yang dipilih, angkanya sangat berat,” ujar Atmadji.

Asdep 3 Bidang Koordinasi Infrastruktur Konektivitas dan Sistem Logistik Kemenko Kemaritiman Rusli Rahim menilai perlu hati-hati dalam menentukan desain proyek kereta semicepat Jakarta-Surabaya. Tidak hanya mempertimbangkan anggaran, pemerintah juga mesti mengkaji dampak ekonomi dan sosial bila harus membuat rute baru karena butuh pembebasan lahan. “Karena itu, butuh waktu hingga akhir Maret 2018 untuk memutuskan desain mana yang akan dipakai,” imbuh Rusli.

Wakil Presiden Jusuf Kalla akan menemui perwakilan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) dan Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii untuk membahas revitalisasi rel yang akan dipakai lintasan kereta api semicepat Jakarta-Surabaya. Menurut Wapres, bagian yang masih menjadi hambatan untuk memulai proyek ini berada di pelintasan sebidang sehingga perlu tambahan lintasan dengan membangun jalan layang atau lintas bawah (underpass) sehingga perlu didiskusikan dengan JICA selaku penyandang dana. (E-2)